RSS

Anak dalam perspektif Sosiologi, Antropologi, Pekerjaan Sosial, dan Budaya

22 Feb

 Perspektif Sosiologi terhadap Anak

 Sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan diungkapkan pertama kalinya dalam buku yang berjudul “Cours De Philosophie Positive” karangan August Comte (1798-1857). Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat. (wikipedia.og.id)

Tokoh yang pertama kali mempopulerkan istilah sosiologi adalah Auguste Comte. Menurutnya, sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat positif karena mempelajari gejala-gejala dalam masyarakat yang didasarkan pada pemikiran yang bersifat rasional dan ilmiah.

Dapat diambil sebuah kata kunci bahwa objek yang diamati atau dipelajari dalam sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat merupakan kumpulan individu yang saling berinteraksi  satu dengan yang lainnya karena mempunyai sifat, karakteristik, dan pandangan yang sama yakni saling membutuhkan dan melengkapi.

Sosiologi memandang bahwa anak merupakan bagian dari masyarakat. Dimana keberadaan anak sebagai bagian yang berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, baik dengan keluarga, komunitas, atau masyarakat pada umumnya. Sosiologi menjelaskan tugas atau peran yang oleh anak pada masa perkembangannya:

  1. Pada usia 5-7 tahun, anak mulai mencari teman untuk bermain
  2. Pada usia 8-10 tahun, anak mulai serius bersama-sama dengan temannya lebih akrab lagi
  3. Pada usia 11-15 tahun, anak menjadikan temannya menjadi sahabatnya

Child (anak) : seorang menurut hukum punya usia tertentu sehingga hak dan kewajibannya dianggap terbatas pula. (Hartini G Kartasapoetra. 1992. Kamus Sosiologi dan Kependudukan. Bumi Aksara : Jakarta)

Perspektif Antropologi terhadap Anak

Anthropologi berasal dari kata Yunani yakni anthropos yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti “wacana” (dalam pengertian “bernalar”, “berakal”). Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa.

Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.

Salah satu tokoh antropolog nasional yakni Koentjaraningrat. Beliau menilai, antropologi sebagai  ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan. Dan antropolog internasional William A. Haviland, mendefinikan antropologi sebagai studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

Anak menurut perspektif antropologi sebagai individu yang merupakan bagian suatu kebudayaan, yang dibentuk melalui pola pengasuhan orang tua, dan melakukan sosialisasi dengan lingkungan sosialnya. Dari perspektif tersebut dapat diambil tiga garis besar yakni:

  1. Bagian dari kebudayaan, anak berhadapan langsung dengan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang melalui orang tua atau yang mengasuhnya. Anak yang diasuh oleh dua subyek (ayah-ibu) yang berlatar belakang budaya yang berbeda akan mempengaruhi budaya anak tersebut. inilah yang disebut dengan istilah asimilasi. Dimana budaya anak merupakan hasil bertemunya dua budaya yang berbeda.
  2. Pola pengasuhan yang dilakukan oleh kedua orang tua, bukan salah satu.
  3. Anak dipengaruhi oleh budaya yang ada di lingkungan sosial tempat ia bersosialisasi.

(Hasil Perkuliahan Kajian Anak tanggal 12 februari 2013)

 

Perspektif Pekerjaan Sosial Terhadap Anak

Pekerjaan sosial merupakan suatu profesionalisme yang bekerja membantu individu, keluarga, komunitas, masyarakat agar dapat berdaya untuk meringankan, mengurangi, memecahkan, dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya dan mewujudkan keberfungsian sosial yang mereka miliki sesuai dengan perannya. Pekerjaan sosial mempunyai sebuah visi yakni terwujudnya kesejahteraan sosial.

Salah satu yang menjadi fokus pekerjaan sosial adalah anak. Anak merupakan sebuah identitas diri yang ada pada diri seseorang sejak masih dalam kandungan hingga masuk sebelum masa remaja awal. Pekerjaan sosial melihat bahwa anak merupakan bagian dari kesatuan yang lebih besar darinya yakni lingkungan sosialnya. Untuk menyelesaikan sebuah permasalah yang terkait dengan anak maka seorang pekerja sosial harus memperhatikan berbagai aspek salah satunya lingkungan keluarga, sekolah, teman bermain, dan masyarakat dimana anak tersebut  tinggal. Ada beberapa indikator yang harus dicapai ketika seorang pekerja sosial melakukan praktek profesinya, yakni:

  1. a.      Well Being, artinya terpenuhi segala kebutuhan fisik, psikis, dan sosial dari anak tersebut)
  2. b.      Security (tingkat keamanan bagi anak ketika ia berada dalam lingkungan sosialnya)
  3. c.       Permanency (untuk membentuk perkembangan yang baik terhadap anak harus dalam pengasuhan bersifat menetap oleh orang tuanya/orang tua asuh dan dalam jangka waktu yang lama)

Anak-anak adalah individu yang menarik, ulet, terkadang dalam kondisi yang berbahaya. Pekerja sosial menangani secara ekstensif dengan anak-anak dan keluarga, dan dengan kebijakan yang mempengaruhi anak-anak, untuk membantu anak-anak dan keluarga mengatasi masalah keluarga, gangguan terhadap anak, kemiskinan, tunawisma dan rumah. Para pekerja sosial juga memberikan perawatan kesehatan yang ada mental saat bekerja untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan perawatan medis. Sekolah merupakan bidang praktek untuk pekerja sosial menangani anak-anak. Isu-isu praktek etika dan keadilan sosial bagi anak-anak yang kompleks. (Mizrahi, Terry and Larry E Davis. 2008. Encyclopedia of Social Work 20th Edition. NASW Press: New York)

 

Perspektif Budaya terhadap Anak

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. (wikipedia.org.id)

Anak merupakan cikal bakal dari suatu generasi baru yang merupakan penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak juga termasuk sumberdaya manusia yang ikut dalam pembangunan sosial. Terbentuknya identitas anak ditularkan melalui warisan yang dengan sengaja diturunkan oleh keluarga maupun lingkungan dimana ia tinggal secara turun temurun. Pembentukkan karakter dan sifat disini merupakan hal yang sangat dominan. Inilah yang nantinya membedakan anak yang dibentuk dari berbgai suku yang berbeda-beda sehingga juga menunjukkan identitas suku dimana ia berasal dan tinggal.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 22, 2013 in Me and Child

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: