RSS

Tempat-Tempat yang Penuh Cita-Cita, Harapan dan Doaku

17 Mar

Mekkah Al Mukarromah

Tak pernah terbayangkan betapa bahagianya apabila mampu menginjakkan kakiku ke tempat yang dimuliakan Alloh itu. Bahkan harta, waktu, dan tenaga akan aku korbankan demi merealisasikannya. Banyak hal yang membuat kuatnya keinginan untuk ke sana.

Diantaranya mekkah merupakan tempat dimana Rasululloh SAW lahir dan mendapatkan risalah dari Alloh SWT untuk menyebarkan Islam untuk pertama kalinya. Walaupun dicaci, dihina, dizholimi, dan hampir terbunuh tapi semangat dan ikhtiar Beliau tidak pernah berkurang bahkan terus meningkat.Subhanalloh

Menarik bukan dapat berkunjung ke tempat penuh dengan siroh Rosululloh itu. 

Tidak hanya itu, ketika saya melihat televisi setiap bulan dzulhijjah maka akan nampak betapa banyaknya jumlah kaum muslimin. Mereka berasal dari  suku, ras, dan warna kulit yang berbeda. Mereka datang dari berbagai negeri di belahan dunia. Tujuannya satu yakni berkumpul mengelilingi Ka’bah (tawaf), Sa’i, ihrom, wukuf dan aktivitas-aktivitas yang Rosululloh SAW ajarkan. Yang lebih dikenal dengan nama ibadah Haji.

Disana juga ada mata air yang sungguh amat menyegarkan dan diriwayatkan mata air tersebut  muncul akibat hentakan kaki seseorang yang amat mulia yakni Nabi Ismail AS. Diriwayatkan pula bahwa mata air itu tidak akan habis sampai hari kiamat datang. Sungguh amat menyenangkan apabila tenggorokan ini dapat dialiri air yang langsung diminum di tempat asalnya.  Ya Alloh, undanglah hamba-Mu ini ke Baitulloh.

Amin….

Mesir

Sewaktu di SMK, aku mempunyai seorang teman yang menurutku ia adalah orang yang baik. Kami sering jalan-jalan, mengaji, dan bermain bersama. Sehingga hal tersebut membuat kami sangat akrab.

Suatu ketika, kami ikut dalam sebuah pengajian di sebuah Masjid. Masjid itu dikenal dengan nama Masjid Al Furqon. Masjid tersebut  didirikan di perkomplekan PT. Timah, tbk yang merupakan salah satu perusahaan tambang timah terbesar di pulau Bangka. Saat itu yang memberikan tausyiah adalah seorang ustad yang merupakan lulusan dari Universitas Al Azhar. Dapat dikatakan beliau adalah imam masjid jami’ tersebut. Nasihat-nasihat yang beliau berikan sangat menyentuh dan membuat semangat dalam beribadah. Apabila ada sebuah permasalah yang belum aku temukan dalilnya maka aku akan tanyakan pada Beliau.

Sejak saat itu, aku menjustifikasi bahwa setiap orang yang merupakan lulusan Al Azhar adalah orang hebat dan pandai dalam ilmu agama Islam (walaupun saat ini aku menyadari bahwa tidak harus demikian). Dan itulah yang membuatku bersemangat (baca : bergebu-gebu) untuk dapat mengenyam pendidikan di kampus itu. Walaupun saat ini, kemungkinannya amat kecil untuk dapat mewujudkannya. Akan tetapi aku tidak mau berhenti berharap, walaupun tubuh ini tidak dapat mengenyam pendidikan di Universitas Islam tertua di dunia itu, insyaALLOH, bi Idznillah, anak-anakku akan bersekolah di sana suatu hari nanti.

Amin….

Australia

Australia, ya…..

Sungguh aneh ketika menyebutkan nama Australia. Bukan apa-apa…

Kok bisa-bisanya, aku bercita-cita atau berkeinginan untuk menginjakkan kakiku disana.

Itu semua berawal dari cerita guruku (Ust. Slamet) di Masjid Al Ihsan STKS, bahwa ada dua negara yang pernah menyelenggarakan Konferensi Khilafah di dunia, salah satunya Indonesia. Dan ada sebuah negara yang membuatku bingung-bingung sekali. Negara tersebut bukan negara dimana kaum muslimin adalah mayoritas. Dan yang kupikirkan bahwa akan sulit hidup di sebuah negara dimana kaum muslimin minoritas di dalamnya. Akan tetapi mendengar informasi yang disampaikan oleh guruku membuatku ingin sekali tau akan negara tersebut. Negara tersebut adalah Australia.

Keinginanku untuk dapat pergi kesana juga didukung oleh bidang pendidikan yang saat ini sedang aku geluti di STKS Bandung, yakni pekerjaan sosial. Ada beberapa dosen yang mengajar di STKS merupakan alumni dari universitas di negeri kangguru tersebut. Kedua hal itulah yang membuatku ingin sekali menghirup udara segar di negeri itu. Dengan cita-cita untuk melanjutkan S2 di bidang Pekerjaan Sosial di Negeri Australia (with my wife, InsyaALLOH). Amin….

Makassar

Like arabic languages, that  I tought when hear my Makassar’ s friends talked with their same friends comed from.

But, not it  makes to me that my goal is Makassar.

It’s becaused somenthing, that I can’t posting it now.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 17, 2013 in Me

 

One response to “Tempat-Tempat yang Penuh Cita-Cita, Harapan dan Doaku

  1. Muhammad Joe Sekigawa

    Maret 18, 2013 at 1:15 pm

    Hmm.. Australia ya… Not too bad ^_^

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: