RSS

Bahaya Saat Penom

17 Apr

PENOM!!!

Begitulah mahasiswa menyebutkan rangkaian kegiatan olahraga yang saat ini sedang berlangsung di STKS. Penom  merupakan singkatan dari Pekan Olahraga Mahasiswa. Kegiatan akbar ini sering diadakan di STKS setiap tahun, yang diorganisasikan panitia yang dipilih melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Berbagai pertandingan yang diadakan diadakan diantaranya futsal, badminton, catur, voli, dan sebagainya.

Kalau melihat olahraga yang dipertandingkan akan menjadi daya tarik bagi mahasiswa STKS. Selain daya tarik yang menjadi perhatian, pekan olahraga mahasiswa ini mempunyai beberapa tujuan yang bermanfaat diantaranya: pertama, meningkatkan semangat kebersamaan diantara tim yang bertandingan; kedua, memelihara kekerabatan memalui pertandingan-pertandingan yang diadakan diantara mahasiswa STKS; dan ketiga, menggali potensi tiap individu sesuai dengan minat dan bakat.

Jebakan Penom

Tujuan awal penom yang bagus akan sia-sia apabila tidak hati-hati atau tidak sesuai koridor syar’i dalam pelaksanaan. Justru ajang ini akan menjadi “jebakan” bagi orang-orang yang terlibat didalamnya.

Suasana meriah penom ditunjukkan oleh peserta yang datang. Perasaan gembira/senang dan bersemangatnya begitu terlihat dari wajah-wajah peserta yang hadir. Hal ini disebabkan keinginan mereka untuk mempersembahkan tropi kemenangan bagi kelasnya. Oleh karena itu, berbagai persiapan dilakukan agar mendapatkan hasil yang maksimal. Mulai dari persiapan sebelum pertandingan yakni dengan latihan bersama dan menyiapkan kostum yang seragam sampai menyiapkan strategi yang pas untuk pertandingan. Semua itu dilakukan dengan sebaik-baiknya agar tidak mengecewakan kelas yang diwakilinya. Begitu pula dengan penonton yang notabene adalah teman sekelas. Mereka pun dengan antusias memberikan semangat kepada tim kelasnya agar menang dalam pertandingan. Akibatnya suasana dilapangan menjadi riuh dengan yel-yel semangat dan sesak oleh peserta dan penonton.

Lalu bagaimana dengan masjid ketika adzan sudah berkumandang. Berapa banyak saf (barisan) yang ada.

Melihat fakta yang ada, bahwasannya semangat dan antusias mahasiswa yang begitu luar biasa untuk hadir memenuhi tempat pertandingan tidak sebanding dengan keadaan masjid apabila adzan sudah berkumandang. Walaupun sudah diatur sedemikian rupa sehingga waktu pertandingan tidak bertabrakan dengan waktu sholat, akan tetapi kebanyakan peserta dan penonton tidak begitu memperdulikan. Namun tak jarang, apabila cuaca buruk pun (baca :hujan), tidak menjadi penghalang untuk dapat mengambil bagian dalam pertandingan olahraga.

Alloh SWT berfirman:

Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya” (QS. Al Ma’un :4-5)

Masruq dan Abudh Dhuha, dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir mengatakan bahwa maksud dari “orang-orang yang lalai dari sholatnya” orang yang lalai mengerjakannya pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat (waktu sholat) sehingga sudah keluar dari waktunya secara keseluruhan. Hal yang sama juga disampaikan oleh  Jalaluddin Asy Syuyuthi dalam kitab Tafsir Jalalain bahwa makna ayat ini adalah mengakhirkan sholat dari waktunya.

Semangat bertanding dan kebersamaan yang begitu luar biasa ini akan sangat disayangkan apabila sia-sia hanya untuk mendahulukan kegiatan-kegiatan yang pada dasarnya mubah untuk dilakukan, seperti penom. Namun akan menjadi baik dan bermanfaat apabila ditujukan untuk beribadah kepada Alloh SWT. Salah satunya  melakukan sholat tepat waktu atau berjamaah di masjid.

Sesungguhnya Rabb kalian berfirman : Siapa yang sholat pada waktunya dan menjaganya serta tidak melalaikannya karena menganggap remeh kedudukannya, maka baginya ada janji dari-Ku untuk Aku masukkan ke dalam surga.” (HR. Ahmad)

Jebakan berikutnya adalah terjadinya ikhtilath (campur baur) pria dan wanita. Dimana mahasiswa tidak mengetahui batasan dalam berinteraksi antara lawan jenis. Yang dipikirkan dan dilakukan hanyalah berkumpul dan memberikan dukungan walaupun bersama-sama dalam tempat terbuka sehingga dapat saling menatap atau berpegangan.

Hal ini sangat bertentangan dengan dengan apa yang telah diamalkan oleh Rosululloh SAW.  Sebagaimana yang disampaikan Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nizhomul Ijtima’i fil Islam, pemisahan pria dan wanita ini juga diriwayatkan (marwiy) dalam bentuk pengamalan dan dilaksanakan kehidupan masyarakat oleh juga diriwayatkanmasyarakat Islam pada masa Rosululloh SAW dan pada seluruh kurun sejarah Islam. Sebagai contohnya, pada saat keluar dari masjid, Rosululloh SAW memerintahkan kaum wanita keluar lebih dulu kemudian disusul oleh kaum pria sehingga kaum wanita terpisah dari kaum pria. Imam Bukhari menriwayatkan dari Hindun binti Al Harits dari Ummu Salamah, istri Rosululloh SAW :

Bahwa kaum wanita pada masa Rosululloh SAW jika telah mengucapkan salam dari shalat wajib, mereka berdiri. Rasululloh SAW dan kaum pria diam di tempat selama waktu yang dikehendaki Alloh. Maka jika Rosululloh SAW berdiri, berdirilah kaum pria.” (HR. Bukhari)

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga interaksi pria dan wanita sehingga tidak menjadi tercampur baur (ikhtilath).

 

Nasihat Kemenangan dan Kekalahan

Menang dan kalah adalah hal biasa. Dimana ada individu atau kelompok yang mendapatkan nilai yang tinggi dan yang lain sebaliknya. Inilah konsekuensi dari sebuah pertandingan.

Menang dan kalah tidak akan menjadi hal biasa apabila dipenuhi dengan penyakit-penyakit hati tiap-tiap invidu yang ikut dalam pertandingan. Yang akhirnya hanya kerugian yang didapat, walaupun pada kenyataannya ia mendapatkan kemenangan.

Maka dari itu ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini, yang insyaAlloh bermanfaat bagi teman-teman yang membaca dan  menyampaikan kepada teman-teman yang lainnya. Berangkat dari firman Alloh SWT

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr : 1-3)

Kalah dalam pertandingan bukan merupakan akhir dari segalanya. Buktinya, apakah dengan kekalahan, teman-teman menjadi kelaparan atau kehilangan segalanya. Ternyata TIDAK, bukan?

Namun apabila tidak berhati-hati maka kita akan terjebak dalam permainan licik yang dimainkan syaitan dalam menyesatkan manusia.

Pertama, menghindari perasaan iri/dengki kepada teman yang memperoleh kemenangan. Ini merupakan penyakit hati yang secara tidak disadari menyusup ke dalam qolbu (hati)  seseorang dikarenakan orang lain mendapatkan kelebihan atasnya yakni berupa kemenangan. Iri dan dengki tidak akan mengubah keadaan, merubah kekalahan menjadi kemenangan. Justru yang rugi adalah orang yang bersangkutan apabila ia iri dan dengki atas kemenangan lawan tandingnya.

Kedua, mengikis rasa dendam dan marah. Potensi kemarahan sebenarnya sudah dimiliki manusia sejak lahir. Sebelum bayi belajar bicara, emosi yang sudah berkembang di dalam dirinya adalah perasaan gembira, takut, malu, heran, dan marah. Marah merupakan reaksi dari perasaan kesal yang memuncak ketika dia temui hal-hal yang tidak selaras dengan keinginan dan pandangan-pandangannya. (KH. Abdullah Gymnastiar)

Hal yang amat membahayakan apabila seseorang tidak dapat mengontrol rasa marahnya. Contohnya saja saat pertandingan berlangsung, apabila ada sebuah tindakan yang tanpa disengaja yang dilakukan oleh lawan tanding kepadanya, baik senggolan, atau perkataan yang tidak mengenakan sehingga menyebabkan memunculkan emosi. Emosi yang meluap-luap dan tak terbendung, mengakibatkan keluar ocehan-ocehan kasar bahkan yang lebih parah terjadinya perkelahian antara sesama mahasiswa.

Untuk apa semua ini. Tidakkah semua itu akan merusak persaudaraan antara sesama. Bukankah tujuan dilaksanakannya penom adalah membina hubungan dan memperkuat persaudaraan.

Alloh amat menyukai orang-orang yang dapat menahan rasa marahnya disaat ia bisa mengeluarkannya. Hal ini sesuai dengan firman Alloh SWT :

…dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang , Alloh menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran : 134)

Begitu pula halnya, ketika teman-teman mendapatkan kemenangan. Setelah persiapan yang matang, dengan menyiapkan tim yang solid, latihan dan sebagainya serta didukung pula oleh usaha yang maksimal. Dan pada akhirnya, kemenangan dapat diraih. Inilah merupakan saat-saat penuh kebahagiaan atas nikmat kemenangan yang dianugrahkan kepadanya.

Akan tetapi patut kita pikirkan dan renungi juga bahwa kemenangan bukan hanya sebagai sebuah nikmat saja, akan tetapi dapat merupakan sebuah ujian bagi teman-teman. Ini tergantung bagaimana sikap untuk meresponnya.

Pertama, hati-hatilah dengan kesombongan. Manusia begitu lemah, tak berdaya, bahkan sangat rapuh, akan tetapi atas pertolongan Alloh-lah semua itu dapat diatasi. Sama halnya, dengan kemenangan yang teman-teman dapatkan. Tidaklah sebuah kemenangan (nikmat) yang didapatkan melainkan Alloh yang telah memberikannya. Alloh-lah yang memberikan kemudahan, saat berhadapan dengan lawan tanding. Alloh-lah yang menjadikan setiap halangan dan rintangan begitu mudah untuk dihadapi dan diatasi. Lalu, patutkah kita merasa sombong. Masih haruskah kita merasa berbangga hati yang berlebihan sehingga meremehkan orang lain. Na ‘udzubillahi mindzalik.

Kedua, ingat akan rasa selalu bersyukur atas kemenangan yang didapatkan. Karena kemenangan merupakan nikmat yang luar biasa diberikan oleh Alloh atas usaha yang dilakukan teman-teman. Rasa syukur yang paling mudah ketika teman-teman mengucapkan “ALHAMDULILLAH”, saat kemenangan itu didapatkan.

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim : 7)

Tidak cukup disitu, sebagai bukti penghambaan diri kepada Alloh SWT maka rasa syukur tersebut dapat diikuti dengan menjalankan ibadah. Sholat yang baik, mencari dan memahami ilmu dan tsaqofah Islam yang menjadikan diri semakin dekat dengan-Nya, kemudian dapat mengajak orang lain agar beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT dengan sebaik-baiknya. Semua ini dapat dilakukan tidak hanya sebagai bentuk rasa syukur akan tetapi bukti keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh SWT. Wallohu a’lam Bishshowab

Selesai dibuat

Pada tanggal 16 April 2013 di Kamar 34 Aspa Biru STKS

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 17, 2013 in Me and My Notes

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: