RSS

Umar dan Ibnu Abbas

30 Mei

Pada suatu hari Umar bin Khatab sedang merenung, kemudian ia memanggil Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya:
“Bagaimana umat ini dapat berselisih, padahal nabinya satu, kitabnya satu dan kiblatnya juga satu?”
Ibnu Abbas menjawab : “Wahai amirul mukminin, sesungguhnya Al Quran diturunkan kepada kita, kemudian kita membacanya, dan kita mengetahui berkenaan dengan apa ayat-ayat Al Quran itu diturunkan. Dan sesungguhnya setelah zaman kita nanti akan ada orang-orang yang membaca Al Quran dan tidak tahu berkenaan dengan apa ayat-ayat Al Quran itu diturunkan, sehingga masing-masing kelompok akan memiliki penafsiran sendiri-sendiri tentangnya. Dan apabila setiap kelompok telah memiliki penafsiran sendiri-sendiri, maka mereka akan berselisih. Dan apa bila mereka telah saling berselisih, niscaya mereka akan saling berperang.”
Maka Umar menariknya dengan kuat dan memarahinya. Lalu Ibnu Abbas berpaling dan pergi.

Kemudian selang beberapa saat, Umar memanggil kembali Ibnu Abbas dan telah memahami dan menyetujui jawabannya. Dan berkata :
“Ulangi sekali lagi jawabanmu itu.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam kitabnya as Sunnan 1/176 no 42.)

Oleh karena itu wajib bagi kita dalam memahami agama ini mengikuti pemahaman para sahabat dan ulama-ulama yang mengikutinya. Terutama ulama ahli hadist yang mengetahui ilmu hadist baik sanad maupun matannya, dan mengetahui syarahnya.
Sebagaimana perkataan Al Imam Ahmad: “Aku tidak tahu siapa lagi golongan selamat itu kecuali ahli hadist.”
Perkataan Imam Ahmad itu bukan tanpa sebab, karena ahli hadist adalah penyambung lisan Rasulullah, penyelamat hadist dari orang-orang yang memalsukan hadist dan dari hadist-hadits yang lemah.

Al Imam As syathibi berkata : “Diantara sebab-sebab tersesatnya ahlu bid’ah ialah: mereka selalu mengira-ngira maksud Al Quran dan as sunnah yang keduanya menggunakan bahasa arab, sedangkan mereka tidak menguasai ilmu bahasa arab yang dengannyalah maksud Allah dan Rasulullah dapat diketahui. Sehingga mereka menyeleweng dari syariat dengan pemahaman dan keyakinan mereka itu. Sebagaimana mereka juga telah menyelisihi ulama-ulama (ahli hadist) yang telah mendalam ilmunya. Dan yang menjadikan mereka terjerumus ke dalam semua ini, karena mereka begitu percaya pada diri mereka sendiri. Dan menganggap mereka telah mampu untuk berijtihad dan menyimpulkan hukum.” (Al I’ithisham 1/172.)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 30, 2013 in Me and My Notes

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: